Tahu Berformalin di Ibu Kota

JAKBAR – Warga DKI Jakarta, tampaknya, harus berhati-hati dalam membeli makanan, terutama tahu. Itu terjadi setelah kemarin Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan (DKPKP) DKI Jakarta menemukan lagi tahu berformalin. Temuan itu didapat setelah DKPKP menggelar sidak makanan-minuman di Pasar Grogol, Jakarta Barat, Rabu (17/6). Sebelumnya, DKPKP menemukan tahu berformalin di Pasar Cibubur.

Dalam sidak Rabu (17/6), petugas memeriksa tiga jenis makanan, yakni produk ikan, daging, dan hortikultura. Hasilnya, dari sidak tersebut, ditemukan dua sampel tahu berformalin dari 10 sampel yang diambil. Pengujian dilakukan secara kualitatif, artinya petugas sekadar mengetahui ada atau tidaknya kandungan zat kimia tersebut. ’’Kami belum mengetahui kadar kandungan formalinnya, perlu ada pengujian lebih lanjut,’’ ungkap Kepala Suku Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan Jakarta Barat Renova Ida Siahaan.

Renova menambahkan, perlu ada penelusuran lebih lanjut terkait dengan temuan itu. Temuan tersebut membuat petugas harus menyosialisasikan kepada pedagang lainnya. Terutama terkait dengan ciri-ciri zat makanan yang mengandung formalin. Apalagi, penggunaan formalin sama sekali dilarang dalam makanan. ’’Tidak ada ambang batas dalam penggunaan formalin,’’ terangnya.

Pedagang tahu berfomalin yang berinisial K mengaku mendapat tahu tersebut dari sebuah pabrik. Namun, dia mengaku tidak mengetahui nama pabrik tersebut. Biasanya, dalam sehari, K memasok 50 tahu putih ukuran besar dan 100 tahu ukuran kecil. ’’Kalau ngirim, biasanya langsung ke rumah, baru saya bawa ke pasar,’’ terang K yang berjualan tahu selama dua tahun.

Sabdo Kurnianto, manajer teknis UPT Pelayanan Kesehatan Hewan, Teknologi Peternakan, dan Pengujian Mutu Hasil Peternakan Provinsi DKI Jakarta menjelaskan hasil temuan. Yakni, daging ayam 19 sampel negatif, daging sapi 19 sampel negatif, hati sapi 1 sampel negatif, produk ayam olahan 2 sampel negatif. Untuk produk hortikultura, ditemukan satu sampel sawi dan kol yang diduga mengandung pestisida berbahaya.

Sabdo melanjutkan, dalam memeriksa kandungan daging, petugas menggunakan tiga teknik pengujian. Yakni, uji formalin, uji eber atau pembusukan, dan uji metanil yellow. ’’Kadar kandungan belum dapat diketahui,’’ ungkapnya.

Mengetahui temuan tersebut, petugas akan menggiatkan penelusuran, terutama terkait pemasok tahu berformalin itu. Khususnya melakukan pengecekan terhadap penjual dan supplier tahu tersebut.

Pengecekan itu sesuai dengan instruksi gubernur untuk memberikan jaminan konsumsi yang layak. Sidak tersebut juga didampingi perwakilan dari kepolisian. Mereka akan membantu petugas dinas KPKP untuk melakukan penelusuran dan proses hukum jika ditemukan indikasi adanya zat berbahaya itu. ’’Terutama terkait dengan siapa yang nakal, apakah penjual atau supplier,’’ ujar Kepala Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Dinas KPKP DKI Sri Haryati. (Jawapos.com)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *