Setiap Hari 93 Perempuan di Negeri Bollywood Diperkosa

SEJAK kasus Nirbhaya, pemerkosaan dan pembunuhan sadis terhadap Jyoti Singh pada 2012, reputasi India sebagai negara kaya budaya dan tujuan wisata dunia tercoreng. Sejumlah negara lantas mengimbau warganya supaya tidak berkunjung ke India. Terutama kaum hawa. Mereka yang sudah telanjur berada di sana pun diminta meningkatkan keamanan diri.

Sebab, India bukanlah negeri yang ramah perempuan. Bahkan, para kaum hawa India pun hampir selalu menjadi sasaran empuk para penjahat kelamin. Data National Crime Records Bureau (NCRB) 2014 menyebutkan bahwa 20 menit sekali, seorang perempuan India menjadi korban pemerkosaan. Sejak 2010, angka kekerasan terhadap perempuan meningkat 7,1 persen.

Sally Kohn, pengamat sosial sekaligus kolomnis pada More Magazine, menyatakan bahwa fakta tentang perempuan India akan dengan mudah membuat kaum hawa yang kebetulan terlahir dan tinggal di negara lain bersyukur. Sebab, mereka tidak perlu menghadapi risiko menjadi korban kekerasan atau bahkan pemerkosaan. Padahal, ancaman yang sama mereka hadapi di negara masing-masing.

’’Data internasional tidak menyebut India sebagai negara dengan angka kekerasan seksual tertinggi dunia,’’ paparnya. Negara berpenduduk sekitar 1,2 miliar jiwa itu hanya menempati peringkat ketiga. Sampai saat ini, Amerika Serikat (AS) masih menjadi jawaranya. Di Negeri Paman Sam, pemerkosaan terjadi tiap 6,2 menit sekali terhadap seorang perempuan.

Tetapi, India bukanlah AS. Sikap dan reaksi masyarakat India terhadap pemerkosaan jauh berbeda dengan AS. ’’Perempuan jauh lebih bertanggung jawab (patut disalahkan) ketimbang pria saat terjadi pemerkosaan,’’ jelas Mukesh Singh, salah seorang terpidana dalam kasus Nirbhaya. Komentar tidak pantas dan cenderung melecehkan perempuan itulah yang memicu larangan film India’s Daughter.

Sebab, komentar Mukesh tersebut muncul dalam film dokumenter garapan Leslie Udwin yang sedianya premiere hari ini di India itu. Cuplikan pandangan awam masyarakat India terhadap kasus pemerkosaan tersebut membuat pemerintahan Perdana Menteri (PM) Narendra Modi kebakaran jenggot. Maka, mereka melarang pemutaran film berdurasi 63 menit itu di seluruh penjuru negeri.

Padahal, di India, hampir semua pria mempunyai pandangan yang sama dengan Mukesh. ’’Tidak ada tempat bagi kaum hawa dalam adat kami,’’ ucap M.L. Sharma, salah seorang pengacara yang membela Mukesh dan lima pemerkosa Jyoti lainnya. Dia lantas mengibaratkan perempuan sebagai mawar. Jika mawar tersebut dibuang ke selokan, ia akan berkubang lumpur dan kehilangan wanginya.

Namun, jika mawar itu menjadi bagian dari sesaji di tempat ibadah, ia akan tetap wangi. Orang-orang pun akan lebih menghargai mawar yang berada di tempat ibadah tersebut ketimbang yang dibuang di selokan. Analogi itu dia paparkan untuk membela pernyataan Mukesh dalam film berbahasa Hindi dan Inggris tersebut. Yakni, bahwa perempuan baik-baik akan berpakaian sopan dan tidak keluar malam.

’’Jika Anda seorang warga India dan mengenal India dengan sangat baik atau mengikuti perkembangan kasus-kasus kriminal dan kekerasan terhadap perempuan di sini, Anda tidak akan menemukan sesuatu yang baru dalam film itu,’’ tutur Salil Tripathi, kolomnis pada situs India Live Mint. Dengan atau tanpa menyaksikan film tersebut, menurut dia, cara pandang masyarakat terhadap pemerkosaan akan tetap sama. (Jawapos.com)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *