Sekeluarga Bikin Pabrik Sabu Sabu

JAKTIM – Petugas kembali mengobok-obok area flat (rumah susun) lantaran terbukti menjadi sarang bisnis narkoba. Setelah flat di Tanah Tinggi, giliran Flat Kapuk Muara, Penjaringan, yang digerebek. Dari flat di wilayah Jakarta Utara itu, petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan dapur produksi (kitchen lab) narkoba.

Yang membuat miris, para tersangka bisnis barang haram yang merusak itu merupakan satu keluarga. Mereka adalah KTJ, 58, ibu; SA, 36, anak pertama; AL, 34, anak kedua; dan NA, 33, pacar AL. Selama ini mereka tinggal di Flat Kapuk Muara Blok B No 3.14. Sekali produksi bisa menghasilkan 1 kg sabu-sabu dengan nilai lebih dari Rp 1 miliar.

Kepala Humas BNN Kombespol Slamet Pribadi menyatakan, otak produsen narkoba itu adalah AL. Tersangka merupakan mantan napi di Lapas Narkotika Cipinang yang baru bebas pada November 2014. Namun, AL kepada petugas mengaku baru sebulan memproduksi sabu-sabu. Ilmu membuat sabu-sabu dipelajari dari sesama tahanan saat mendekam di penjara.

Sebelumnya, AL divonis lima tahun penjara atas kepemilikian 13 butir ekstasi. Ternyata, AL tidak kapok bergelut dalam bisnis yang bisa saja mengantarkannya ke vonis mati. ’’AL ini nimba ilmu dalam penjara. Setelah keluar, dipraktikkan dengan mengajak anggota keluarganya,’’ kata Slamet ketika ungkap kasus di kantor BNN Selasa (28/4).

Tersangka belajar meracik serbuk setan tersebut saat waktu luang. Misalnya, waktu olahraga. Lalu, siapa mentor AL di rutan itu? Slamet masih merahasiakannya untuk kepentingan pengembangan penyidikan.

Slamet menjelaskan, penggerebekan di Flat Kapuk Muara itu dilakukan atas laporan warga. Mereka sebelumnya curiga terhadap aktivitas satu keluarga AL tersebut. Sebab, pada saat tertentu, dari dalam unit flat itu tercium asap menyengat seperti pembakaran bahan kimia. Untuk menyamarkannya, terkadang pelaku membakar dupa. Terlebih, AL adalah warga keturunan Tionghoa.

Setelah sebulan mengintai, petugas melakukan penggerebekan ke Flat Kapuk Muara. Dari ruang berukuran sekitar 4 x 4 meter itu, polisi menyita beberapa barang bukti. Di antaranya, sabu-sabu hasil produksi sekitar 162 gram dan sabu-sabu cair dalam kristalisasi sekitar 150 milimeter.

Selain itu, petugas menyita prekursor atau bahan pembuat narkotika. Antara lain, efedrina (diekstrak dari obat flu), asam sulfat, toluene, dan aseton. Alat atau bahan pendukung lainnya adalah metanol, iodin, red fosfor, dan soda api. ’’Barang bukti yang kami sita ini kategori kecil. Tanda lainnya dibikin di rumah. Beda dengan kategori besar yang biasanya di gudang,’’ ujarnya.

Slamet menerangkan, mereka tidak tentu memproduksi narkoba karena bergantung pada situasi dan ketersediaan bahan. Bisa 0,5 gram atau sampai 1 kg. Meski demikian, kualitasnya nomor satu di pasaran narkoba internasional. Bahkan, harga 1 kg bisa miliaran rupiah. Nah, mereka mengedarkan hasil produksi itu di Jakarta. ’’Masih dalam jaringannya,’’ katanya.

Kepala Laboratorium BNN Kuswardani menambahkan, sabu-sabu itu bisa diproduksi selama delapan jam. Lama atau tidaknya waktu bergantung pada bahan awal yang didapat. Sebagian bahan itu bisa didapat dari apotek. Yang lama, kata dia, adalah penyaringan berkali-kali untuk menghasilkan sabu-sabu cair. Setelah itu, ditunggu mengkristal dan tinggal memadatkan. ’’Beberapa bahan dijual di toko kimia,’’ ujarnya. (Jawapos.com)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *