Rusia-Palang Merah Minta Gencatan Senjata di Yaman

ADEN – Gempuran tentara koalisi yang dipimpin Arab Saudi di Yaman agaknya membuat pemberontak Syiah Houthis goyah. Minggu (5/4) pemimpin senior Houthis Saleh Al Sammad menawarkan duduk bersama untuk membicarakan rencana damai. Dengan catatan, serangan udara yang dilakukan Saudi selama 11 hari ini dihentikan terlebih dahulu.’’Kami tidak menginginkan syarat apa pun kecuali penghentian agresi serta duduk di meja yang sama untuk berdialog. Pihak-pihak regional maupun internasional yang tidak memiliki niat menyerang Yaman juga bisa mengawasi dialog ini,’’ ujar Sammad. ’’Kami menginginkan agar sesi dialog disiarkan pada penduduk Yaman. Jadi, mereka bisa tahu siapa sebenarnya yang menjadi pengganggu,’’ tambahnya.

Meski begitu, dia menegaskan, Presiden Abd Rabbu Mansour Hadi tidak bisa lagi kembali ke Yaman. Menurut dia, penduduk Yaman sudah tidak menginginkan Hadi. Sejak Houthis menyerang Aden bulan lalu, Hadi melarikan diri dan mencari perlindungan di Arab Saudi.

Sejauh ini, memang belum ada jawaban dari Arab Saudi. Namun, berbagai pihak juga ikut mendesak agar serangan udara di Yaman dihentikan. Salah satunya adalah Rusia. Moskow mendesak Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi supaya Arab Saudi menghentikan serangan sementara waktu. Jeda waktu itu akan dipakai untuk mengeluarkan penduduk asing dari Yaman serta mengirimkan bantuan kemanusiaan.

’’Jeda ini akan memastikan bahwa ketika kami mengevakuasi orang-orang, mereka aman dan selamat,’’ tegas Duta Besar Rusia Vladimir Safronkov.

Saat ini evakuasi besar-besaran warga asing dari Yaman memang dilakukan banyak negara. Sabtu (4/4) Aljazair mengevakuasi 160 penduduknya. Mereka juga mengangkut 40 penduduk Tunisia, 15 Mauritania, 8 Libya, 3 Maroko, dan seorang penduduk Palestina. Mereka diterbangkan dengan pesawat nasional Aljazair Air Algerie dari Sanaa menuju Kairo.

Permintaan senada diajukan Komite Internasional Palang Merah (ICRC). Mereka meminta setidaknya ada gencatan senjata selama 24 jam untuk mengevakuasi korban luka dari medan perang. Sebab, jika tidak, mereka yang awalnya terluka bisa menjadi korban tewas. PBB menyatakan, sejak serangan udara Arab Saudi dimulai pada 26 Maret, ada 500 korban tewas dan 1.700 orang luka-luka di Yaman.

’’Kami benar-benar membutuhkan penghentian pertempuran secepatnya untuk memberikan kesempatan pada keluarga-keluarga di area yang paling terdampak seperti Aden. Yaitu, agar mereka bisa keluar serta mendapat makanan dan air atau mencari pengobatan,’’ ujar Kepala Operasional ICRC di Timur Tengah Robert Mardini.

Dia menegaskan, saat ini penduduk di beberapa wilayah mengalami kekurangan makanan serta persediaan air hampir habis. Mereka meminta jalur udara, darat, dan air segera dibuka agar bantuan kemanusiaan berupa 48 ton peralatan medis bisa mereka terima. Dengan begitu, ICRC bisa mengobati korban luka, utamanya penduduk sipil. Sayangnya, keinginan itu tidak akan terkabul dengan cepat. Sebab, Arab Saudi menegaskan, bantuan kemanusiaan akan masuk jika kondisinya tepat dan memungkinkan. Namun, mereka tidak menjelaskan kapan.

(Jawapos.com)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *