Proyek Nuklir Iran Belah AS-Israel

WASHINGTON – Tenggang bagi Iran untuk menyepakati kerja sama nuklir dengan Barat bakal usai akhir bulan ini. Selasa (3/3) Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry menemui sejawatnya asal Iran, Mohammad Javad Zarif. Sementara Israel masih terus berusaha menghalangi tercapainya kesepakatan.

Saat Kerry dan Zarif merancang kesepakatan yang sama-sama menguntungkan, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu justru memprovokasi Barat, khususnya AS, agar tak bersepakat dengan Iran. Caranya, memaparkan dosa-dosa nuklir Iran dalam pidatonya di hadapan kongres. Padahal, Mossad (badan intelijen Israel) sudah menyebutkan bahwa perspektif pemimpin 65 tahun itu tentang nuklir Iran salah.

”Netanyahu selalu bisa menciptakan klaim,” ujar Presiden Barack Obama dalam wawancara dengan Reuters awal pekan ini. Lewat klaim-klaim itu, Netanyahu selalu berusaha meyakinkan AS dan sekutu Eropa-nya bahwa program nuklir Iran adalah ancaman bagi dunia. Bahkan, setelah Negeri Para Mullah itu menghentikan sementara pengayaan uraniumnya sejak 2013, Israel tetap gusar.

Netanyahu, menurut Obama, selalu punya asumsi negatif tentang nuklir Iran. Selama bertahun-tahun, kepala pemerintahan Israel itu berusaha meyakinkan Barat bahwa Teheran hendak memproduksi bom atom lewat program nuklirnya. Dia selalu mematahkan penjelasan Iran tentang misi sipil yang diusung lewat program nuklir tersebut.

”(Netanyahu selalu meyakini bahwa dialog dengan Iran) hanya akan melahirkan kesepakatan yang buruk. Bahwa tujuan dialog hanyalah pengucuran dana bantuan senilai USD 50 miliar (sekitar Rp 649,5 triliun) untuk Iran. Dan, Iran tetap tidak akan tunduk terhadap kesepakatan. Tapi, tidak ada satu pun klaim (Netanyahu) yang benar,” papar Obama.

Orang nomor satu Gedung Putih itu lantas memaparkan rancangannya untuk mengakhiri krisis nuklir Iran. Yakni, pembekuan program nuklir selama minimal sepuluh tahun. ”Jika mereka mau menghentikan sementara program (nuklir) itu selama sekitar dua digit periode sehingga kami punya kesempatan untuk melakukan verifikasi, kami tidak akan punya alasan lagi untuk menentang program tersebut,” urai Obama.

Pemimpin berdarah Kenya itu tidak yakin bahwa Iran akan bisa menerima rumusannya tersebut. Tapi, sejauh ini, solusi itulah yang menjadi alternatif terbaik bagi kedua pihak. ”Solusi itu akan jauh lebih efektif ketimbang aksi militer yang mungkin akan diluncurkan Barat atau Israel untuk mengakhiri nuklir Iran. Itu juga lebih efektif jika dibandingkan dengan sanksi apa pun,” tegas dia.

Dokumen Mossad yang bocor tentang nuklir Iran dan penilaian Obama tidak mampu membendung ambisi Netanyahu untuk membunuh karakter Iran lewat program nuklir negeri itu. Celakanya, Partai Republik yang sedang berusaha menggalang dukungan menuju pemilihan presiden (pilpres) 2016 malah memberikan podium bagi ketua Partai Likud tersebut. Karena itu, Netanyahu pun kembali membual soal nuklir Iran.

Menjelang pidato Netanyahu, Departemen Luar Negeri AS memperingatkannya tentang rahasia diplomatik dua negara. Juru Bicara (Jubir) Marie Harf mewanti-wanti tokoh yang akrab disapa Bibi itu supaya tidak mengungkapkan detail dialog diplomatik AS dan Israel tentang Iran. ”Jika ada informasi (diplomatik AS-Israel), artinya dia mengkhianati kepercayaan kami,” ucap dia.

Kemarin Kerry dan Zarif kembali membahas nuklir Iran di salah satu hotel di Kota Montreux, Distrik Riviera-Pays-d’Enhaut, Provinsi Vaud, Swiss. Karena dialog masih berlangsung, Harf pun melarang Netanyahu berbicara tentang diplomasi Barat dan AS yang terkait dengan Iran. Washington juga menepis tuduhan Israel bahwa AS hanya akan meneken kesepakatan tanpa memedulikan kualitasnya.

”Presiden kami sudah berpesan agar perwakilan AS tidak membuat kesepakatan yang buruk (dengan Iran),” ungkap Josh Earnest, salah seorang juru bicara Gedung Putih. Meski terkesan melunak terhadap Iran, menurut dia, Obama tetap menentang keras misi senjata dalam program nuklir Negeri Persia itu. Hanya, sejauh ini, Teheran masih bisa membuktikan pernyataannya tentang program nuklir nonsenjatanya.

Belakangan, hubungan AS dan Israel memang sedang tidak mesra. Program nuklir Iran menjadi salah satu faktor yang membuat hubungan dua negara itu berjurang. Tapi, Obama yakin bahwa AS dan Israel segera harmonis lagi. ”Perbedaan pendapat ini tidak akan selamanya merusak hubungan AS dan Israel,” tegasnya. (Jawapos.com)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *