Plengsengan Tol Gempol–Pandaan Ambrol Timbun Rumah Warga

PASURUAN – Dua keluarga di Dusun Kesemi, Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, yang terdampak longsoran jalan tol terpaksa mengungsi. Sebab, rumah mereka belum bisa ditempati setelah tertimbun longsoran proyek jalan tol Gempol–Pandaan.

Salah seorang korban, Angki, bersama keluarganya saat ini mengungsi ke rumah tetangga untuk sementara sambil menunggu longsoran tebing jalan tol ditangani pihak terkait. ’’Mereka tinggal di rumah saya karena rumah mereka terkena longsoran,’’ ungkap Saiful, tetangga Angki, Selasa (28/4).

Kondisi yang lebih parah terjadi pada rumah kos milik Sumianto, 45. Rumah tersebut rusak parah. Bahkan, rumah yang baru dibangun tersebut terlihat sudah rata dengan timbunan material longsor.

Sementara itu, Hariyanto, pimpinan proyek tol Gempol–Pasuruan dari PT Adhi Karya, memastikan bakal bertanggung jawab atas kerusakan bangunan yang terdampak longsoran.

Berdasar data, hanya rumah Sumianto yang ambruk karena diterjang longsoran. Rumah yang masih dibangun itu bakal dibenahi. Sementara itu, rumah milik Angki akan dibersihkan karena kerusakannya tidak terlalu parah.

’’Kami akan bertanggung jawab atas rumah yang roboh. Untuk rumah sebelahnya, tidak sampai rusak. Hanya perlu dibersihkan lantaran terkena longsoran,’’ tutur Hari.

Rencananya, pembenahan dilakukan setelah material longsoran dibersihkan. ’’Kami akan bersihkan lebih dulu, baru rumah warga yang terdampak kami benahi,’’ jelasnya.

Sebelumnya, hujan deras yang mengguyur wilayah barat dan selatan Kabupaten Pasuruan pada Senin sore (27/4) membawa petaka bagi warga Dusun Kesemi. Plengsengan jalan tol Gempol–Pandaan ambrol dan langsung menimbun dua rumah warga.

Dua warga itu adalah Sumianto, 45, dan Angki, 30. Bahkan, keduanya nyaris tertimpa longsoran material jika tidak sigap menghindar. Untung, pemilik rumah beserta para penghuni berhasil menyelamatkan diri dari insiden tersebut.

Longsor tersebut terjadi sekitar pukul 15.00. Berdasar informasi di lokasi, dinding penahan jalur bebas hambatan itu ambrol karena saluran gorong-gorong di jembatan tol tidak berfungsi. Apalagi saat itu hujan lebat turun.

Di atas jembatan, air mengalir ke selatan mengikuti permukaan yang lebih rendah dan menuju permukiman warga di bawah plengsengan. Derasnya air membuat plengsengan tol retak. Tidak lama kemudian, plengsengan itu akhirnya ambrol. Material plengsengan berupa tanah dan bebatuan seukuran kepala orang dewasa meluncur kencang dan menghantam rumah Sumianto serta Angki.

’’Awalnya, saya mendengar suara krak (suara retakan, Red) tiga kali. Takut akan runtuh, saya lari,’’ ungkap Sumianto kepada koran ini.

Dia lalu mengajak Angki untuk meninggalkan rumah mereka. Tidak lama kemudian, plengsengan ambrol. Banyaknya tumpukan material bahkan membuat dua rumah tersebut hanya terlihat separo.

’’Saya sempat mendengar suara gemuruh. Ternyata, plengsengan ambrol dan menimpa dua rumah di bawahnya,’’ ungkap Miska, warga setempat.

Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan Bakti Djati Permana menyatakan sudah menurunkan anggota ke lokasi. ’’Sudah ada anggota kami yang turun ke lokasi untuk mengecek,’’ ujarnya. (Jawapos.com)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *