Perjuangan Pemain Shakhtar Donetsk di Tengah Konflik Politik

SHAKHTAR Donetsk tidak diunggulkan saat menjamu Bayern Muenchen pada first leg babak 16 besar Liga Champions (18/2). Selain kalah materi pemain, Shakhtar harus berlaga di Arena Lviv yang sesungguhnya bukan kandang asli mereka.

Meski begitu, para pemain Shakhtar tampil luar biasa. Diprediksi akan kalah, juara Ukraina itu mampu menahan imbang Bayern dengan skor 0-0.

Meski tampil sangat baik, topik utama pembicaraan pemain Shakhtar di kamar ganti bukan jalannya pertandingan. Obrolan Darijo Srna dkk juga bukan soal mobil atau perempuan. Namun, soal berita gencatan senjata antara pemerintah Ukraina dan pemberontak pro-Rusia di wilayah timur negara tersebut.

Memang, sejak Maret 2014, kondisi di wilayah timur Ukraina sangat gawat. Pemberontak pro-Rusia mengangkat senjata melawan pemerintah. Dua wilayah yang paling ngeri adalah Donetsk dan Luhansk. Donbass Arena, kandang Shakhtar, hancur berantakan setelah menjadi sasaran bom. Hal itu memaksa mereka mengungsi ke Arena Lviv dengan alasan keamanan.

Dengan adanya berita bagus tersebut, para pemain Shakhtar mulai mendiskusikan kemungkinan untuk pulang dari pengungsian di Lviv sejak Juni lalu. Kiper utama Andriy Pyatov berharap segera terbebas dari status ’’pelarian’’.

’’Jika orang-orang tidak tewas setiap hari, kami baru akan bisa fokus bermain,’’ ucap Pyatov kepada The Guardian. ’’Anda tidak akan bisa bermain setelah mendengar berita bus ditembaki dan orang-orang meninggal. Anda akan memikirkan itu,’’ imbuh penjaga gawang 30 tahun tersebut.

Pyatov menegaskan tidak bisa lari dari kenyataan gawat yang menimpa Donetsk. Meski dia sebisa mungkin menyembunyikan perasaannya, itu mustahil dilakukan karena nyawa orang-orang sipil terus terancam karena konflik bersenjata tersebut.

’’Jelas Anda tidak bisa berkonsentrasi dalam pertandingan. Anda mencoba untuk menjadi profesional, namun itu mustahil dilakukan,’’ katanya.

Konflik berdarah yang berkepanjangan itu memakan banyak korban jiwa. Setidaknya 5.400 orang dalam sepuluh bulan terakhir tewas. Pekan ini bentrokan kembali terjadi di salah satu wilayahDonetsk, Debaltseve.

Konflik bermula ketika demonstran pro-Rusia menyerang gedung administrasi di Donetsk. Mereka menyebut rezim Ukraina adalah representasi Barat dan menginginkan campur tangan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk ’’membebaskan’’ Donetsk. Pemerintah Rusia juga campur tangan dengan menyediakan senjata, pelatihan militer, dan sukarelawan untuk membantu pemberontak.

Pyatov sendiri berasal dari Kirovohrad, Ukraina Tengah. Dia membela Shakhtar sejak 2007 dan bermain 47 kali untuk timnas Ukraina. Karena itu, dia sudah merasa menjadi warga Donetsk.

Tetapi, keamanan di atas segalanya. Karena konflik tidak kunjung mereda, Pyatov membawa serta istri dan tiga anaknya mengungsi ke ibu kota Ukraina, Kiev.

Selain pemain asli Ukraina, penggawa Shakhtar asal Brasil juga menyatakan loyalitas. Terdapat 13 pemain asal Negeri Samba di skuad Shakhtar. Enam orang di antara mereka menjadi starter saat berhadapan dengan Bayern.

’’Memang menarik untuk mencari tantangan baru. Namun, saya lebih suka tinggal di Ukraina, di klub yang sangat saya cintai ini,’’ kata Luiz Adriano, top scorer Shakhtar, kepada The Guardian. Padahal, striker 27 tahun itu diincar oleh Arsenal, Liverpool, dan AS Roma.

Selain itu, Pyatov memuji pelatih asal Rumania Mircea Lucescu yang tetap bersama Shakhtar walau mendapat tawaran menggikurkan dari raksasa Turki Galatasaray.

’’Tidak ada satu pun yang meninggalkan tim. Tim ini rasanya lebih kuat daripada sebelumnya. Secara jiwa, moral, dan psikologi, kami semakin tangguh,’’ kata Pyatov.

Meski mengungsi, Shakhtar tidak ditinggalkan. Hampir 35 ribu penonton menyaksikan laga melawan Bayern di Lviv. ’’Ukraina mencintai kami. Sebab, sepak bola bisa memberikan harapan dan kegembiraan,’’ papar Pyatov. (Jawapos.com)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *