Pembangunan Gedung Baru di Yogyakarta Berpotensi Rusak Cagar Budaya

YOGYAKARTA – Balai Pelestarian Cagar Budaya (BCPB) Yogyakarta mengkhawatirkan pembangunan gedung-gedung baru terutama di Kota Yogyakarta berpotensi merusak bangunan cagar budaya yang ada

Demikian diungkapkan Kepala Seksi Perlindungan Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB Yogyakarta Wahyu Astuti saat dihubungi, Senin (23/3/2015).

“Kami mengajak masyarakat umum ikut melakukan pengawasan terhadap kemungkinan pembangunan gedung baru terutama di lahan yang terdapat cagar budaya,” katanya.

Pihaknya, kata dia, saat ini berlomba dengan pembangunan, karena banyak sekali pembangunan hotel-hotel baru terutama di wilayah Kota Yogyakarta.

“Jika tidak diawasi ketat bangunan cagar budaya bisa berpotensi menjadi korban dari dampak perkembangan pembangunan hotel tersebut,” ucapnya.

Ia mencontohkan bangunan SMP Negeri 3 Yogyakarta yang beberapa waktu lalu tembok pagarnya roboh karena ada pembangunan hotel di sampingnya.

“Bangunan SMP Negeri 3 Yogyakarta itu termasuk cagar budaya, tapi memang temboknya tidak,” ujarnya.

Menurut dia, bangunan SMP Negeri 3 Yogyakarta masih belum didaftarkan sebagai cagar budaya dilindungi. Meski sudah dilakukan pendataan.

“Kami sudah punya data. Tinggal diusulkan agar mempunyai surat keputusan (SK). Tapi, meski saat ini masih dugaan masuk dalam cagar budaya, tetap sudah dilindungi,” katanya.

Wahyu mengatakan, peningkatan pengawasan dengan mengajak peran serta masyarakat ini, salah satunya dengan memberikan pelang cagar budaya agar bisa semakin terlihat. Seperti di Jalan Malioboro, salah satunya gedung Apotek Kimia Farma.

“Tulisan atau pelang pemberitahuan bahwa itu cagar budaya terlalu tersembunyi. Kami mau tampakkan, biar semua orang tahu kalau bangunan itu dilindungi,” tuturnya.

Sementara itu, Kapokja Perlindungan BPCB Yogyakarta, Muhammad Taufik mengatakan untuk di Kota Yogyakarta, setidaknya ada 88 bangunan yang sudah terdaftar sebagai warisan budaya.

“Namun angka tersebut akan bertambah lagi. Usulan mengajukan agar suatu bangunan bisa mendapatkan SK cagar budaya kan dari kami,” ucapnya.

Ia mengatakan agar kasus SMA 17 “1” yang mencuat beberapa tahun silam dan sudah ada keputusan majelis hakim di 2015 ini juga menjadi pelajaran bagi semua. Bangunan agar budaya di sekolah tersebut telah dirusak oleh salah satu pihak yang bersengketa. Dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya itu.

“Kasus SMA 17 “1” menjadi pelajaran bagi semuanya. Selain yang melakukan kerusakan harus bertanggungjawab, karena telah melanggar undang-undang, juga kerugian yang lain berupa nilai dari bangunan tersebut,” ujarnya. (Pikiran-rakyat.com)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *