MERS Terus Menyebar, Pariwisata Korsel Terpukul

SEOUL – Penduduk Korea Selatan (Korsel) dilanda kepanikan. Penyakit sindrom pernapasan Timur Tengah atau yang dikenal dengan MERS kian merajalela.

Kemarin (4/6) Kementerian Kesehatan Korsel menyatakan, penyakit mematikan itu telah merenggut korban jiwa ketiga. Pasien pria yang berusia 83 tahun tersebut tewas Rabu (3/6) di rumah sakit setelah terkontaminasi virus MERS dari pasien lain di ruangan yang sama.

Bukan hanya korban tewas yang bertambah, penduduk yang positif MERS juga naik berkali-kali lipat. Saat ini, dipastikan ada 36 orang yang telah terinfeksi virus. Melonjaknya jumlah pasien itu juga membuat penduduk yang diisolasi bertambah. Lebih dari 1.660 orang telah dikarantina dengan berbagai level yang berbeda. Mereka ditengarai tertular secara langsung dan tidak langsung.

Selain itu, masih ada 160 orang lain yang diisolasi di fasilitas khusus milik pemerintah. Seluruh penduduk yang masuk label merah itu harus tinggal di rumah. Akses interaksi mereka dengan orang lain sangat dibatasi agar penularan tidak kian luas.

Orang-orang yang dikarantina tersebut, antara lain, 20 tentara. Enam di antara mereka telah melakukan kontak dengan pasukan udara Korsel yang baru-baru ini didiagnosis MERS. Petugas yang positif MERS itu bertugas di pangkalan udara militer di Osan, selatan Seoul.

’’Budaya di sini, keluarga sering merawat pasien di rumah sakit. Untuk pasien umum di bangsal, hanya ada beberapa perawat yang berjaga jika dibandingkan dengan rumah sakit di negara Barat,’’ ujar Dr John Linton dari Rumah Sakit Pendidikan Yonsei University, Seoul, menjelaskan penyebab cepatnya penularan MERS di Korsel.

Pemerintah telah mengumumkan agar penduduk mengurangi kegiatan di luar rumah. Di jalanan Seoul dan berbagai kota besar lainnya, hampir seluruh orang menggunakan masker. Untuk meminimalkan penularan, lebih dari 1.100 sekolah, mulai jenjang TK hingga perguruan tinggi, ditutup sementara. Panggilan ke hotline MERS milik pemerintah per hari mencapai tiga ribu.

Industri pariwisata Korsel juga sangat terpukul karena wabah tersebut. Organisasi Pariwisata Korea (KTO) kemarin melaporkan, ada sekitar 7 ribu turis yang membatalkan rencana perjalanan mereka ke Negeri Ginseng itu. Mayoritas berasal dari Taiwan dan Tiongkok.

’’Pembatalan dalam skala besar seperti ini sangat tidak biasa. Kebanyakan pelancong beralasan adanya wabah MERS,’’ ujar juru bicara KTO.

MERS yang mewabah di Korsel juga membuat Korea Utara (Korut) ketir-ketir. Sebab, setiap hari sekitar 500 pekerja dari Korsel datang ke pusat industri Kaesong di Korut. Pyongyang meminta Korsel memasang detektor panas tubuh sebelum memasuki Korsel untuk antisipasi penularan.

Kepanikan penduduk Korsel dan Korut wajar terjadi. Sebab, hingga saat ini, belum ada vaksin maupun pengobatan khusus yang bisa menyembuhkan MERS. Penelitian masih dilakukan di berbagai negara. Layaknya flu pada umumnya, MERS menyerang saat kekebalan tubuh menurun.

WHO menegaskan, sampai Rabu lalu, tercatat ada 1.179 pasien MERS di seluruh dunia sejak pertama merebak pada 2012. Sebanyak 442 orang di antara mereka tewas. Kasus MERS dilaporkan terjadi di 25 negara. Sejauh ini, kasus di Arab Saudi tetap yang tertinggi. Kasus di Korsel dan Tiongkok merupakan yang tertinggi di luar negara Timur Tengah. (jawapos.com)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *