Jokowi Desak Bank Turunkan Bunga

JAKARTA – Suku bunga kredit perbankan di Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi di dunia. Pemerintah berharap perbankan segera menurunkan suku bunga kredit untuk membantu menggerakkan perekonomian.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI rate diharapkan bisa menjadi momentum bagi perbankan untuk ikut menurunkan suku bunga kredit. ”Kalau BI rate turun, mestinya interest rate (suku bunga) juga turun,” ujarnya di Jakarta Rabu (25/2).

Jokowi menyadari bahwa perbankan memiliki kalkulasi tersendiri dalam menentukan suku bunga. Beberapa faktor yang memengaruhi adalah cost of fund atau biaya dana simpanan serta besarnya biaya operasional yang harus ditanggung perbankan. ”Kalau biaya-biaya itu turun, mereka (suku bunga, Red) juga akan turun,” katanya.

Berdasar data suku bunga dasar kredit (SBDK) yang dipublikasikan perbankan, suku bunga bank BUMN memang masih nangkring jauh di atas BI rate yang sudah turun ke level 7,5 persen. Misalnya, Bank Rakyat Indonesia (BRI) masih mematok SBDK kredit pemilikan rumah (KPR) 10,25 persen dan kredit korporasi 11,00 persen. Bahkan, kredit mikro dipatok hingga 19,25 persen. Sementara Bank Mandiri mematok bunga KPR 11,00 persen, kredit korporasi 10,50 persen, dan kredit mikro 19,50 persen.

Adapun BNI mematok bunga KPR 11,10 persen dan kredit korporasi 11,00 persen. Namun, bunga kredit mikro tidak ditampilkan. Jika dicermati, bunga bank BUMN tersebut relatif lebih tinggi daripada bunga bank swasta seperti Bank Central Asia (BCA), yang mematok bunga KPR 10,50 persen dan kredit korporasi 10,50 persen. Itu semua adalah suku bunga dasar. Dengan demikian, secara aktual suku bunga yang ditanggung nasabah akan lebih tinggi karena masih harus ditambah premi risiko.

Menteri BUMN Rini Soemarno menjelaskan, pihaknya sudah mengidentifikasi potensi efisiensi biaya operasional yang bisa menjadi jalan bagi bank BUMN untuk menurunkan suku bunga kredit. Misalnya dengan integrasi anjungan tunai mandiri (ATM). ”Sehingga lebih efisien karena bank-bank BUMN tidak perlu investasi ATM sendiri-sendiri,” tuturnya.

Gubernur BI Agus Martowardojo kemarin juga sudah bertemu Presiden Jokowi. Agus menyatakan melaporkan kondisi moneter dan perbankan di Indonesia yang masih solid. Terkait suku bunga, BI juga ingin penurunan BIrate bisa diikuti penurunan suku bunga kredit perbankan. ”Kita akan melihat transmisi (turunnya BI rate) ke penyaluran kredit dan sektor ekonomi lain,” katanya.

Manajemen bank pelat merah juga sudah dipanggil ke istana. Direktur Utama BNI yang juga Ketua Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) Gatot Suwondo mengakui, presiden meminta bank-bank BUMN menghitung potensi penurunan suku bunga seiring turunnya BI rate. ”Itu yang diharapkan (presiden). Soal berapa turunnya, beliau percayakan ke kita,” ucapnya. (Jawapos.com)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *