Dengkur Tanda Anak Gangguan THT

SURABAYA – Gangguan kesehatan yang menyerang telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) tidak boleh dianggap remeh. Tiga organ itu merupakan jalan makan dan jalan napas. Fungsinya begitu vital dalam mendukung kehidupan seseorang. ”Kalau sudah sakit di bagian itu tapi dibiarkan dan menolak tindakan, bisa jadi vonis mati,” ujar Dr dr Achmad C. Romdhoni SpTHT-KL (K) menjelang kegiatan ilmiah Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) XIII Ilmu Kesehatan THT-KL pada 18–19 April mendatang.

Menurut dia, salah satu penyakit berbahaya yang sering disepelekan adalahngorok atau mendengkur. Itu bisa menjadi gejala penyakit sleep apnea syndrome (SAS). Tandanya adalah tiba-tiba terbangun karena sulit bernapas. Dokter alumnus FK Unair itu mengatakan, di RSUD dr Soetomo jumlah penderita sleep apnea cukup tinggi. Ada dua sampai tiga keluhan setiap pekan. Artinya, per bulan bisa mencapai 12 orang.

Romdhoni mengatakan, penyakit tersebut bisa menyebabkan kematian. Terjadi penyumbatan jalan pernapasan. Tandanya adalah terbangun dengan kondisi gelagapan. Itu berarti sensor mengingatkan tubuh akibat rendahnya kandungan oksigen pada otak. Jika sering terjadi, konsumsi oksigen di otak terus berkurang. Akibatnya, bisa henti napas mendadak saat sedang tidur. ”Bisa bablas,” ujarnya.

Awalnya, sleep apnea ditandai rasa kantuk dan lelah yang masih ada meski kuantitas tidur lama. Romdhoni mengatakan, sleep apnea bisa menyerang anak-anak ataupun dewasa. Menurut Romdhoni, jika anak mendengkur, berarti ada yang salah pada tubuhnya. ”Anak kecil normalnya nggak ngorok. Kalau ada balita mendengkur, orang tua harus waspada. Segera ke dokter THT,” ucapnya.

Pada kasus sleep apnea anak, biasanya orang tua tidak melaporkan masalah mendengkur. Keluhan awalnya berupa anak kesulitan menelan dan gampang muntah. Ada lagi anak yang sakit pilek, namun tidak kunjung sembuh. Setelah ditanyai lebih dalam, orang tua baru menyebut anak ngoroksaat tidur.

Romdhoni mengungkapkan, anak yang mendengkur biasanya disebabkan ada amandel yang membuntu jalan napas. Menurut dia, amandel pada anak umur 0–6 tahun memang wajar. Kegunaannya pertahanan tubuh. Seiring pertumbuhan, seharusnya amandel itu hilang. Namun, ada yang terus membesar. Akibatnya, bisa terjadi tonsilitis kronis. Yakni, penyumbatan jalan napas yang berbahaya. Salah satu dampaknya mendengkur.

Saat ini ada teknik baru operasi untuk mengatasi ngorok. Yakni, memotong uvula. Itu adalah tonjolan yang menggantung pada langit-langit lunak di atap mulut. Jika mendengkur karena amandel, bagian tersebut dijahit dengan teknik tertentu atau diambil keseluruhannya.

(Jawapos.com)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *