Bocoran Soal Unas Tak Dipakai Nyontek

JAKARTATeka-teki apakah bocoran soal ujian nasional (unas) 2015 diGoogle Drive digunakan siswa untuk menyontek sudah dijawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Mendikbud Anies Baswedan menegaskan, tidak ada tanda-tanda bahwa bocoran yang menghebohkan itu telah digunakan siswa untuk mengerjakan unas. Siswa peserta unas di Provinsi Aceh maupun Jogjakarta tidak memanfaatkannya.

Saat dihubungi Minggu (26/4), Anies mengatakan bahwa data pemindaian lembar jawaban siswa dari Provinsi Aceh sudah masuk ke Kemendikbud. Begitu pula data pemindaian dari 20 provinsi lain. Sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, hari ini (27/4) adalah batas akhir pengiriman hasil pemindaian lembar jawaban unas.

Anies menjelaskan, tim Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kemendikbud sudah mulai menganalisis hasil pemindaian lembar jawaban siswa se-Provinsi Aceh. ”Memang belum tuntas 100 persen,” terang Anies. Namun, berdasar hasil analisis sementara, pola jawaban peserta unas di Provinsi Aceh tidak menunjukkan pemanfaatan bocoran soal ujian.

”Pola jawaban siswa di Provinsi Aceh masih sama dengan tahun lalu,” kata mantan rektor Universitas Paramadina, Jakarta, itu. Kemendikbud sudah memiliki rekaman pola-pola khas dari jawaban siswa di seluruh provinsi. Sejauh ini, papar Anies, untuk pola jawaban siswa di Aceh, tidak ada perubahan yang mencolok. Dengan begitu, bisa dipastikan tidak ada bukti bahwa peserta unas di Provinsi Aceh menggunakan bocoran soal ujian untuk menyontek.

Sebaliknya, jika terjadi aksi menyontek masal dengan berbekal bocoran soal ujian itu, akan terlihat pola jawaban siswa yang berubah drastis bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Misalnya, tahun lalu tingkat jawaban salah 20 persen, sedangkan tahun ini jawaban siswa nyaris benar semua. Setelah mengetahui pola jawaban siswa untuk Provinsi Aceh dan Jogjakarta itu, hampir dipastikan tidak ada unas ulangan akibat kecurangan.

Seperti diketahui, penyelenggaraan unas tahun ini diwarnai kehebohan luar biasa. Yakni, naskah soal unas resmi diunggah ke internet via layanan penyimpanan digital Google Drive. Kemendikbud menduga oknum di Perum Percetakan Negara terlibat dalam kasus pengunggahan dokumen negara yang bersifat sangat rahasia itu.

Kemendikbud memastikan bahwa dokumen yang diunggah tersebut diperuntukkan peserta unas di Provinsi Aceh dan Jogjakarta. Sebelumnya, Anies juga memastikan bahwa tidak muncul pola kecurangan masal untuk peserta unas di Provinsi Jogjakarta. Data pemindaian lembar jawaban unas untuk Provinsi Jogjakarta lebih dulu masuk ketimbang hasil pemindaian dari Provinsi Aceh.

Pengamat pendidikan Mohammad Abduhzen berharap keterangan Mendikbud bahwa bocoran soal unas tidak digunakan siswa memang benar. ”Kami sebagai masyarakat umum tidak tahu apa ada yang ditutup-tutupi. Semoga kesimpulan hasil penyelidikan itu jujur,” ucap dia.

Meski begitu, Abduhzen memiliki pandangan lain tentang pelaksanaan unas tahun ini. Doktor bidang filsafat pendidikan jebolan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu menuturkan, kecurangan dengan modus-modus lama seperti menyontek masih ada dalam pelaksanaan unas tahun ini.

”Kecurangan dalam unas sudah menjadi kebiasaan sekolah dan murid,” ujarnya. Meski unas tidak lagi menjadi penentu kelulusan, pendorong siswa untuk berbuat curang tetap ada. Yakni, iming-iming bahwa nilai unas bisa menjadi pertimbangan dalam seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM PTN). (jawapos.com)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *