Amankan 65 Imigran dari Bangladesh, Sri Lanka, dan Myanmar

KUPANG – Imigrasi Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menerima kiriman 65 imigran gelap. Perinciannya, 10 orang berasal dari Bangladesh, 54 orang dari Sri Lanka, dan 1 orang lagi dari Myanmar. Tiga orang di antaranya adalah balita.

Para pengungsi mancanegara tersebut diketahui keberadaannya oleh aparat Polres Rote Ndao saat terdampar di Pulau Landuti, Rote Barat Laut, pada Minggu (31/5). Setelah mendapatkan informasi, pukul 18.00 Wita, aparat Polres Rote Ndao langsung bergerak menuju Pulau Landuti.

Pada Senin (1/6) pukul 03.00 Wita, 65 orang itu langsung diamankan dan digiring menuju Mapolres Rote Ndao. Nah, kemarin (2/6) pukul 13.00 Wita, mereka dikirim ke pihak Imigrasi Kupang dengan menggunakan kapal cepat Express Bahari F1. Setibanya di Pelabuhan Tenau Kupang, para imigran gelap yang dikawal ketat aparat Polres Rote Ndao tersebut diangkut dengan menggunakan lima bus ke Hotel Ina Boi Kupang.

Kepada Timor Express (Jawa Pos Group), Kapolres Rote Ndao AKBP Hidayat di Pelabuhan Tenau Kupang menyatakan, pihaknya berhasil mengendus keberadaan imigran gelap itu berkat laporan dari masyarakat di Pulau Landuti. Setelah mendapatkan laporan tersebut, pihaknya langsung bergerak ke Pulau Landuti dan menangkap para imigran itu.

Selain para imigran gelap tersebut, pihaknya mengamankan dua kapal motor yang dipakai para imigran itu. Salah satu kapal motor tersebut rusak, sedangkan satu yang lain masih baik. ’’Jadi, mereka (para imigran gelap, Red) berangkat dari negaranya pada 5 Mei. Pada 20 Mei mereka tiba di Pulau Pasir Putih, Pulau Christmas. Saat itulah, mereka ditangkap pihak angkatan laut dan imigrasi Australia,’’ ujar Hidayat.

Awalnya, tutur dia, para imigran tersebut hanya berlayar dengan satu kapal tanpa nama. Tetapi, setelah diamankan pemerintah Australia, para imigran itu diberi dua kapal dengan bahan bakar secukupnya untuk kembali berlayar ke perairan Indonesia. ’’Setelah diamankan di Australia lalu diberi kapal tambahan dan BBM secukupnya, mereka diminta berlayar ke Indonesia. Mereka lalu terdampar di Pulau Landuti pada 31 Mei. Selain 65 imigran gelap tersebut, kami berhasil mengamankan dua ABK. Namun, seorang ABK serta nakhoda justru melarikan diri,’’ jelasnya.

Tersangka yang melarikan diri tersebut, ungkap dia, masih terus dikejar. Sementara itu, dua yang diamankan saat ini ditahan di Mapolres Rote Ndao. Salah seorang imigran gelap, Kayuran, mengaku bahwa tujuan mereka adalah Selandia Baru. Tetapi, mereka justru terdampar di Rote. ’’Selama berlayar, kami sempat diamankan pihak angkatan laut dan Imigrasi Australia. Selanjutnya, kami dikasih kapal lagi dan BBM, lalu diminta berlayar ke perairan Indonesia. Namun, kami justru terdampar di Rote,’’ tuturnya. (Jawapos.c0m)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *