Sejak PSBB Diterapkan, Pedagang Sayuran Tak Mengalami Dampak yang Dikhawatirkan

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kini terus berupaya memutus rantai persebaran COVID-19. Interaksi fisik dan sosial tentu dibatasi, salah satunya di tempat-tempat yang menjadi pusat kerumunan seperti pasar.

Kebijakan pembatasan akses semakin diperketat. Ketika pemerintah menetapkan kebijakan PSBB, ada kekhawatiran sulitnya mendapatkan kebutuhan pokok, bagi konsumen. Para pedagang kebutuhan pokok juga mengkhawatirkan hal yang demikian. Mereka memutar otak, agar pasokan dagangan tidak menumpuk di gudang.

Hal tersebut tentu hanya kekhawatiran sesaat. Itulah yang dirasakan oleh Dadan Kartiwa, petani sayuran dari wilayah Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

“Saat ada corona, saya berpikir, wah, ini akses pada dibatasi. Terus, bagaimana dengan sayuran yang saya jual. Haduh, kalau tidak diserap konsumen, bisa busuk menumpuk di gudang,” ucapnya, dilansir dari laman Pikiran Rakyat di Kampung Cijerokaso Wetan, Desa Cibodas Kec. Lembang.

Setiap hari, lebih dari 1,5 kuintal ia pasok sayuran ke berbagai pasar. Termasuk Kota Bandung dan Jakarta. Ia tetap memasok sayur dalam dua pekan diberlakukan PSBB.

“Tidak ada kendala dalam pengiriman. Pesanan juga sama. Malah pasarpasar modern meningkatkan kuantitas pesanannya. Yang penting saat pengiriman, lengkap administrasi dan mengikuti protokol kesehatan,” terangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: