Ilmuwan Terus Kembangkan Obat Virus Corona dari Unsur Aktif yang Ada

Para ilmuwan saat ini sedang berlomba untuk mengembangkan obat dan vaksin virus corona SARS-CoV-2. Bersamaan dengan hal tersebut, diteliti unsur aktif dari obat yang sudah ada dan terbukti ampuh melawan virus lain.

“Repurposing” merupakan prosedur untuk memanfaatkan atau mengalihfungsikan obat-obatan yang sudah ada, untuk melawan patogen jenis baru. Prosedurnya tak hanya murah juga cepat, karena fase uji klinis yang panjang dan rumit bisa disederhanakan.

Terdapat 68 proyek pengembangan vaksin virus corona SARS-CoV-2 yang saat ini dilaksanakan di seluruh dunia. Namun, apakah di tahun 2020 ini, vaksinnya sudah bisa digunakan? Banyak yang meragukan bahwa vaksinasi massal, bahkan di negara semaju Jerman atau AS, bisa dilakukan tahun ini juga.

Para peneliti melakukan riset unsur aktif dari tiga grup obat-obatan yang sudah ada di pasaran, untuk menguji coba keampuhannya melawan virus corona jenis baru.

Pertama obat-obat anti virus baik dari keluarga corona maupun virus lain. Kedua, obat anti malaria dan ketiga, obat lainnya, yang digunakan dalam terapi kanker, asthma atau multiple sclerosis (sklerosis ganda).

Unsur aktif dari obat yang sudah ada, hendak digunakan antara lain untuk memerangi virusnya, membantu meningkatkan kekebalan tubuh pasien, serta melindungi paru-paru agar tetap mendapat suplai oksigen yang cukup.

Saat ini yang memicu eforia ialah obat flu Avigan buatan Fujifilm Holdingdari Jepang yang sudah mengantungi izin resmi sejak 2014. Unsur aktifnya Favilavir terbukti ampuh melawan wabah Ebola yang dipicu virus corona jenis lain pada 2014 dan 2016 di Afrika.

Pemerintah Cina melaporkan, penggunaan Avigan di Wuhan yang jadi episentrum pandemi, menunjukkan hasil yang prospektif. Pakar virologi Jerman Christian Drosten dari rumah sakit Charite di Berlin menyebutkan, setelah rangkaian ujicoba di Italia hasilnya “sangat menjanjikan.”

Jepang saat ini menyimpan dua juta paket Avigan sebagai tindakan berjaga-jaga. Indonesia dan Jerman juga sudah memesan jutaan paket obatnya dari Jepang. Sejauh ini, uji klinis obat ini melawan virus corona jenis baru dilaporkan belum tuntas.

Yang diduga bisa jadi obat SARS-CoV-2 adalah unsur aktif Remdesivir yang semula dikembangkan untuk melawan Ebola. Dalam uji laboratorium unsur aktif ini juga terbukti ampuh melawan SARS dan MERS. Obat yang dikembangkan perusahaan farmasi AS, Gilead Sciences itu sejauh ini belum mengantungi izin resmi untuk pemasaran. Namun, di Cina dan di AS kini sedang dilakukan uji klinis Remdesivir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: